Rahasia Menyelesaikan Utang Segunung


Allahu Akbar, Allah itu Maha Besar. Dia jelas lebih
besar daripada “hutang kita”. Kenapa kita tidak melirik
kepada Kebesaran-Nya ini?
Dewasa ini hutang merupakan penyakit sosial, dan
penyakit massal. Dikatakan demikian, sebab nyatanya
hampir lebih dari separuh penduduk, punya hutang!
Hutang riil, bukan hutang negara. Di antara para
penghutang, ada yang hutangnya seolah tak terbayarkan
karena setinggi gunung. Ada juga yang tak terbayarkan
karena tidak tahu dengan apa hutang bisa dibayar. Tapi ada
juga para penghutang yang berkategori aman. Alias
penghasilannya masih cukup buat bayar hutang.
Sepuluh Hal
Yang Bisa Meringankan Beban
beban memang berat bila dibawa sendirian.
maka berbagilah dengan Allah.
Tulisan kali ini, khusus untuk Anda yang hutangnya
besar, atau sangat besar. Apalagi kalau kemudian
hutang-hutang Anda ini membuat leher Anda begitu
tersekat. Karena ini pernah terjadi pada Luqman; tokoh
utama dalam Wisata Hati yang kehidupannya dijadikan
media pembelajaran dan tadzkirah. Dan Luqman bisa
sedikit meringankan bebannya dengan menerapkan
strategi berikut ini. Sekedar catatan, bagi Anda yang tidak
memiliki hutang, tapi memiliki permasalahan lain,cara-cara yang akan dipaparkan ini bisa juga Anda pakai.


Sesuaikan saja dengan keadaan permasalahan yang sedang
terjadi. Kepada Allah jua kita hdapkan permasalahan
hidup dan kehidupan kita.

1.Pahami pesan permasalahan dan mohonkan
ampun atas kesalahan dan keburukan.
Sikapi dulu, pahami dulu, kenapa sampai hutang muncul
dan membesar. Bila ini ada kebiasaan dari sifat yang
kepengen senang tanpa perjuangan (instan), minta ampun
dulu. Hal ini sama saja dengan cara menghadapi
permasalahan yang lain selain hutang. Yaitu dengan
memohon ampun setelah melakukan pemuhasabahan
[pengkoreksian diri].
Pahamilah, bahwa kesempitan hidup bisa muncul,
sebabnya adalah kita jauh dari kita punya Tuhan, jauh dari
Allah; Mungkin shalat kita belang belentong, kita tiada
hormat sama orang tua, kita tiada sayang sama keluarga,
kita tiada menghormati hak tetangga, kita mudah
menzalimi orang, kita boros, kita berkawan sama
teman-teman yang jauh dari Allah, dan hal-hal negatif
lainnya yang menandakan kita sudah jauh dari Allah;
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku,
maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…
(Thâha: 124).
Salah satu bentuk kesempitan hidup adalah adanya hutang
yang tidak terbayar atau piutang yang tidak kunjung
tertagih. Bentuk kesempitan yang lain adalah apapun bentuknya yang dirasakan sebagai kesusahan oleh manusia
pada umumnya; seperti penyakit yang menahun,
kemiskinan yang penuh dengan duka dan derita,
kebangkrutan yang menghempaskan kita dari kehidupan
normal, hilangnya pekerjaan, rumah tangga yang tidak
sakinah, dan sebagainya.
Maka untuk mengubah keadaan menjadi baik, atau
menjadi lebih baik dari sebelumnya, perlu kiranya kita
melayangkan permintaan maaf dulu kepada Allah „azza wa
jalla;
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu
kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.
Mudah-mudahan Allah akan menutup
kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke
dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”
(at Tahrîm: 8).


Andai hutang adalah akibat kesalahan, maka dengan
diawali permohonan ampun kepada Allah, insya Allah,
berdasarkan ayat tersebut, kesalahan tersebut akan ditutup
oleh Allah. Dan surga yang disebut di ayat tersebut bisa
kita terjemahkan ke pengertian suasana yang penuh
dengan kenikmatan. Bukankah kenikmatan adanya bila
ketenangan kembali menghiasi hidup? Bukankah
kenikmatan adanya bila hutang bisa terbayar? Bukankah
kenikmatan adanya bila hidup kembali normal, dengan
keluarga bisa ngumpul, tidak lari-larian terus? Surga adalah
kenikmatan. Dan kita kejarlah surga dunia dengan
memohon ampun kepada Allah.

Untuk tahap awal, dan sekaligus sebagai riyadhah (latihan),
biasakanlah dulu mengucap kalimat istighfar
(astaghfirullâh);
Barangsiapa yang membiasakan diri beristighfar, Allah
akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitannya,
menjadikan kelapangan bagi kesempitannya, dan
memberikannya rizki dari hal-hal yang tidak pernah dia
duga sebelumnya.” (al Hadits).

  1. Pupuk kembali keimanan dan perbanyak amal
    kebaikan.
    Setelah memohon ampun, lanjutkan terus dengan kembali
    beriman dan beramal saleh (untuk menebus kesalahan).
    Saudara, permohonan ampun sangat terkait dengan
    perbaikan hidup, perubahan kualitas hidup. Tapi sekedar
    memohon ampun, jelas tidak cukup. Ini didasarkan pada
    surah al Furqân: 70;
    “(Akan ditambahkan kesusahannya kelak di hari kiamat,
    dan akan dihinakan) kecuali orang-orang bertaubat (yang
    menghentikan langkah buruknya), beriman, dan beramal
    saleh. Mereka inilah orang-orang yang keburukannya
    digantikan Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah
    Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    Keburukan bagi yang berhutang, kan, tidak bisa bayar
    hutangnya. Maka, awali dulu dengan permohonan ampun.
    Tapi sebelum diubah keadaannya, pupuk iman supaya bisa
    melakukan amal saleh yang bisa mengimbangi keinginan
    dan masalah kita.
    Sekarang coba kita perhatikan redaksi ini “kecuali mereka
    yang bertaubat, beriman dan beramal saleh…”. Kenapa diantara kewajiban amal saleh dan taubat, ada kalimat beriman? Karena perlu iman untuk melakukan amal saleh.Selain tanpa iman, amal saleh tidak dianggap, ia pun menjadi dorongan agar kita kudu percaya; dengan kita melakukan amal saleh, maka keburukan kita akan diubah menjadi kebaikan. Semakin besar kepercayaan kita sama Allah, maka akan semakin besar juga amal kita. Kira-kira begitu, insya Allah.Dan kenapa juga iman dan amal saleh harus didahului taubat? Karena tanpa bertaubat dulu, iman dan amal saleh tidak akan bisa “bunyi”, tidak akan punya pengaruh bagi perbaikan hidup. Minta ampun dulu, pupuk keimanan,dan berjuanglah memupuk amal saleh. Lagipun kata Allah dan Rasul-Nya, kebaikan akan menghapus keburukan.
  2. Kembangkan pikiran positif dan jangan biarkan
    pikiran negatif bermain.
    Jangan biarkan pikiran negatif bermain. Paling tidak hibur
    diri dengan pikiran-pikiran positif. Ini perlu latihan.
    Setidaknya coba lihat apa yang masih tersisa di hidup dan
    kehidupan kita. Kita punya hutang, tapi masih bisa berlari,
    karena punya kaki. Bagaimana mereka yang tidak punya
    kaki. Terus lagi misalnya, kita punya hutang besar, dan
    agak-agak mustahil ga kebayar, tapi kita masih dikasih
    mata, lumayan. Intinya mengembangkan kepositifan
    berpikir.
    Jujur saja, memang kita seringkali dipenjara oleh
    pemikiran negatif kita sendiri. Kita menganggap kesusahan yang terjadi sudah seperti neraka, dan seakan kita sudah mengalami yang namanya kiamat.

Berikut ini beberapa contoh pemikiran negatif:
 Dalam posisi berhutang, kita ketakutan ditagih.
Padahal kalau dihadapi baik-baik pun orang juga akan
baik juga. Dan biasanya akan ada jalan keluarnya.
 Kita memenjarakan diri kita dengan pemikiran negatif
bahwa hutang kita tidak akan mungkin pernah bisa
terbayar. Siapa bilang? Kan ada Allah dengan Segala
Keajaiban-Nya? Jangan menyerah dulu dengan
keadaan. Ingat, kondisi negatif pertama kali dibentuk
oleh pikiran-pikiran negatif.
 Kita menganggap hidup kita berantakan. Ini juga sering
bermain di dalam pikiran kita. Kita menganggap hidup
kita sudah “finish”, sudah berakhir. Akhirnya kita mati
langkah sendiri, hanya mengurung diri di kamar, tanpa
mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat. Bila sudah
begini, yang sering terjadi adalah kita seperti sedang
menghitung hari kematian. Deg-degan terus,
sementara kita hanya berdiam diri saja.
Oleh karenanya, penting sekali mengembangkan
pikiran-pikiran positif.
Tapi memang, orang-orang salah mah, sudah ketetapan
Allah mereka ketakutan dengan kesalahan-kesalahannya
apabila ditampakkan Allah;
Kamu lihat orang-orang yang zalim ketakutan dengan
keburukan-keburukan yang telah mereka lakukan,Sedang akibat buruk perbuatan buruk biar bagaimanapun
juga tetap akan menimpa mereka…” (asy Syûrâ: 22).
Tapi insya Allah, dengan iradah Allah, semua hal yang
buruk-buruk segera digantikan dengan yang baik-baik.
Dan ini sekali lagi bisa kita dapatkan dengan memohon
petunjuk Allah, ampunan serta rahmat-Nya.
Semoga tulisan ini benar-benar membawa manfaat, bukan
hanya buat saudara, tapi juga buat saya dan keluarga.

4.Pikirkan kemampuan Allah, kuasa Allah. Jangan
membatasi diri dengan kemampuan diri.


Pikirkan kemampuan Allah, bukan ketidakmampuan diri
sendiri. Ini penting, sebab kita sering jadinya putus asa,
manakala kita sadar bahwa tidak ada satupun yang kita bisa
lakukan untuk menutup hutang. Kalau Kuasa Allah kan
tidak berbatas dan tidak bertepi. Beda dengan kuasa kita,
langkah kita, yang ada mentoknya. Yang harus kita lakukan
sementara kita tidak punya kemampuan, adalah kita
secepatnya kembali kepada Allah, dan meminta
Kuasa-Nya hadir di dalam kehidupan kita. Urusan hutang
terlalu kecil bagi-Nya. Kalau Dia sudah berkenan, bukan
saja hutang kita akan lunas, tapi juga kehidupan kita akan
kembali dibangkitkan oleh Allah, usaha kita kembali
dijayakan, rumah tangga kembali diharmoniskan,
pekerjaan kembali diberikan, ketenangan kembali
dihadirkan. Dan mampukah Allah? Pasti mampu. Dia
pasti mampu. Dan ini pasti, tidak perlu diragukan lagi

5.Yakinkan diri bahwa Allah Maha Menolong.


Pikirkan Allah itu Maha Menolong. Tinggal sekarang kita
berupaya agar pertolongan Allah hadir dalam kehidupan kita, dalam permasalahan kita. Saudara, yang harus kita
kuatirkan dalam setiap usaha kita dalam membayar hutang
dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan lain
adalah jangan-jangan pertolongan Allah tidak ada. Sebab
tidak mungkin yang namanya “susah” tidak mau pergi
kalau Allah sudah berkenan menolong. Minimal, ketika
permasalahan masih ada, kalau Allah sudah berkenan
menolong, Dia akan menghadirkan ketenangan dan
kedamaian di hati. Hidup kita tidak tegang, tidak panik.

6.Percaya bahwa Allah bakal menolong.

Usahakan menanamkan keyakinan bahwa Allah itu bakal
menolong kita. Dengan begini, kita akan merasa aman.
Sebab sudah ada sandaran. Kita pikirkan, kalau hutang kita
ada yang menjamin, bukankah kita bakal tenang? Pikirkan,
bila terhadap penyakit kita, ada yang bilang, ah, penyakit
ini sih penyakit biasa, insya Allah bisa sembuh; maka hati
kita langsung senang, langsung tenang? Demikianlah,
kalau kita menyandarkan diri kita kepada Allah, dan
meyakini bahwa Dia Yang Maha Menolong mau
menolong kita, sungguh, ketenangan dan kedamaian akan
hadir. Insya Allah.
Dan yang tidak kalah pentingnya, jaga sikap, jaga hati, jaga
pikiran. Ini kalau kita semua mau ditolong oleh Allah.
Maksudnya, jadikan diri kita pantas ditolong oleh Allah;
Barangsiapa yang bertakwa (memelihara diri) kepada
Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rizki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal
(menyerahkan diri dan persoalan hidup) kepada Allah,
niscaya Dia akan mengurusnya…” (ath Thalâq: 2-3).

7. Percaya bahwa Allah hanya menghadirkan hal-hal
yang mudah dan hanya akan mempermudah.
Pikirkan bahwa Allah itu hanya menghadirkan hal-hal yang
mudah saja. Tidak pernah menghadirkan hal yang sulit.
Yang sulit mah kita. Kita bahkan menambah sulit diri kita
dengan memelihara kekhawatiran dan ketakutan. Jadi,
upayakan agar Kehendak Allah muncul dalam kasus
hutang piutang kita. Mengupayakan kehendak Allah itu
adalah dengan mengetahui dengan cara apa dan berusaha
mendekati Allah sehingga Dia berkenan kepada kita;
“… Allah hanya menghadirkan kemudahan bagi kamu,
tidak menghendaki kesukaran bagi kamu…” (al Baqarah:
185)

8.Jangan mengambil langkah yang salah dan hanya
menambah permasalahan.
Panik hanya kepada Allah. Jangan panik lalu mengambil
langkah-langkah yang menambah runyam keadaan.
Mengatasi hutang dengan hutang baru tanpa ada pijakan
bayarnya adalah salah satu contoh kepanikan, menurut
pengalaman saya. Jangan coba-coba menutup masalah
dengan menghadirkan permasalahan yang lebih besar.
Berpaling kepada selain Allah (meminta bantuan
paranormal, dukun-dukun, kyai-kyai kurafat, kyai-kyai
musyrik) akan menyebabkan Anda akan semakin jauh dari
Allah. Langsung saja menghadap Allah, dengan jalan
shalat dan sabar. Meski demikian, tidak salah minta doa
dari orang yang Anda anggap alim, tidak salah minta
nasihat dari pemuka-pemuka agama yang masih menjaga
kehormatan dan kemuliaan agama Allah.

9.Perbaiki ibadah dan tingkatkan usaha.
Tingkatkan usaha, perbaiki ibadah dan doa.

Untuk Anda yang muslim, terutama rajinin bangun malam untuk shalat tahajjud, dan pada pagi harinya shalat sunnah Dhuha,mengiringi shalat fardhu. Supaya pintu keberkahan dari langit bertambah terbuka. Kalau mengambil nasihat dari Aa Gym, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.
Percayalah, bila Anda berhutang, dan Anda memang berniat untuk membayar, maka Allah akan hadirkan kemudahan-kemudahan bagi Anda. Dan hal ini juga menjadi ibadah tersendiri. Insya Allah.

10.Pasrahkan kepada Allah.
Memasrahkan diri kepada Sang Maha. Kalaupun akhirnya ada masa sulit yang memang harus mampir dalam kehidupan kita, terima saja. Yang penting kita tahu bahwa Dia sedang melihat kita dan tetap akan memperhatikan kita. Kita pasrahkan kejadian masa depan hanya kepada-Nya. Dan kadang-kadang kejadian tidak seburuk bayangannya koq. Udah waktunya berlalu mah, ia akan berlalu. Pagi saja berganti malam, tidak pernah pagi terus atau malam terus.
Sekali lagi, yakinkan diri akan Kuasa Allah. Insya Allah,ada saja jalan bagi kita, termasuk jalan keluar untuk hutang-hutang kita.

Membayar Hutang
Lewat Jalan Sedekah
Kebesaran Allah selalu lebih besar daripada semua permasalahan yang kita hadapi. Lalu kemudian yang kita perlukan adalah menghadirkan kebesaran Allah dalam proses penyelesaian masalah yang kita hadapi.

Sebenarnya ada satu lagi cara yang sangat-sangat
efektif untuk bebas dari segala kesulitan, termasuk urusan
hutang yang tidak terbayarkan. Caranya banyakin nolong
orang, banyakin sedekah.
Ketika kita menemukan kesulitan muncul dalam
kehidupan kita, apapun namanya, apapun bentuknya,
bersegera saja mencari orang-orang yang lebih sulit dari
diri kita. Bersegera saja mencari orang-orang yang lebih
susah, lebih menderita daripada beban yang kita pikul.
Mana perlu, korbankan banyak (jangan sedikit) apa yang
kita punya. Kalaupun kita engga punya uang, tapi kita
masih punya aset barang, jual saja barangnya, lalu
sedekahkan. Keajaiban dari menolong orang, keajaiban
dari bersedekah akan membebaskan kita dari kesulitan
seperti apapun kesulitan tersebut adanya. Buktikan saja.
Lalu ada yang bertanya, ukuran sedekahnya bagaimana?
Ukurannya adalah sebesar-besarnya kemampuan kita, dan
sedekahlah yang terbaik. Besar kecilnya relatif. Tapi harus
imbanglah dengan masalahnya. Kita punya masalah,
sementara kita masih memiliki aset ratusan juta rupiah, lalu
kita mengorbankan “hanya” beberapa ratus ribu rupiah,
tentu akan terlihat ketidakimbangan. Lakukanlah
pengorbanan yang terbaik, supaya Allah melihat,
“hemmm, si Fulan mau mengorbankan harta dan jiwanya
untuk-Ku, maka Aku akan bantu dia menyelesaikan
persoalannya.”

Tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sampai
kamu mau mengorbankan apa yang kamu cintai…” (Âli Imrân: 92).
Kebaikan buat para penghutang adalah terbayar
hutangnya. Kebaikan buat orang yang sakit adalah sembuh
dari sakitnya. Kebaikan untuk orang-orang yang sedang
gelisah adalah ketenangan, dan seterusnya. Nah, mereka
ini, digaransi Allah tidak akan mencapai kebaikannya itu
dengan sempurna, dengan mudah dan gampang, kecuali
mereka mau mengorbankan apa yang mereka cintai.
Untuk membantu menemukan bagaimana sih
pengorbanan yang kira-kira dikehendaki Allah?

Berikut ini ilustrasi kejadian. Please, jangan berpatokan dari hitam
putih ilustrasi ini. Kembangkan sendiri, dan selaraskan
dengan iman kepada Allah, yang berkaitan dengan
keinginan dan permasalahan kita;
 Saudara misalkan punya hutang. Katakanlah seratus
juta rupiah. Sementara saudara saat ini tidak memiliki
uang yang berarti untuk membayar hutang saudara.
Tapi saudara memiliki tanah seluas 100 meter persegi.
Dan tanah itu satu-satunya, yang sedianya akan saudara
bangunkan rumah (sebab masih ngontrak). Lalu datang
penawaran Allah, bahwa kebaikan bagi saudara adalah
ketika saudara bisa mengorbankan apa yang saudara
cintai. Kemudian saudara berani mewakafkan tanah
tersebut untuk sekolah di sekitar saudara, atau saudara
jual dan uangnya saudara sebar untuk rizki yatim piatu
di kampung Anda. Maka insya Allah ini dianggap
sebagai sebuah pengorbanan.

 Saudara memiliki uang hanya satu juta-satu jutanya.
Sementara saudara dihadapkan pada permasalahan
hutang yang cukup besar. Lalu Allah menjanjikan akan
menolong mereka yang mau menolong saudaranya.
Dan karena tertarik dengan janji ini, saudara lalu
menginfakkan delapan ratus ribu rupiah (jumlah yang
sangat besar bila dibandingkan dengan uang yang
hanya satu juta rupiah), untuk menyentuh kesusahan
orang lain, membelai yatim, membayarkan beberapa
spp anak, membelikan obat-obatan ringan bagi
keluarga miskin; maka bila ini Saudara lakukan, insya
Allah inilah pengorbanan terbaik dari saudara yang bisa
segera mengundang pertolongan Allah.
 Anda akan dioperasi jantung. Saat itu misalnya, tidak
ada pilihan lain kecuali saudara menjual rumah
satu-satunya milik saudara untuk biaya operasi. Dan
Anda rela untuk tinggal di rumah kontrakan dengan
alasan kesehatan jauh lebih mahal. Tapi ketika saudara
tahu tentang keutamaan sedekah, di mana salah
satunya adalah menghilangkan penyakit, Anda
memilih tetap menjual tanah tersebut. Tapi bukan
untuk biaya operasi, melainkan untuk disedekahkan.
Anda lalu pulang, menandatangani surat pernyataan
pelepasan tanggung jawab dari rumah sakit. Kemudian
Anda lalu memilih tidak operasi, tapi rawat jalan saja,
sambil mencari pengobatan alternatif. Jalan ini
ditempuh oleh saudara, dengan keyakinan bahwa Anda
perlu sesuatu untuk dikorbankan, untuk disedekahkan.
Subhanallah saudara, iman saudara akan membuat
Allah menyembuhkan penyakit saudara, tanpa operasi.
Akan ada saja jalan dari Allah untuk menyembuhkan penyakit saudara tanpa melalui pintu operasi. Misalnya,
suatu hari Anda kedatangan tamu, lalu tamu ini
menyarankan Anda meminum ramuan tertentu. Eh,
dengan ramuan ini saudara bisa sembuh. Dan
sebenarnya, rahasia kesembuhan saudara adalah karena
adanya ridha Allah. Allah senang saudara sudah berani
mengorbankan tanah satu-satunya yang saudara
sedianya jadikan biaya operasi; jadi dengan “hanya”
meminum ramuan, saudara dibuat-Nya sembuh.
 Seseorang yang ingin berhaji. Lalu dia memiliki
tabungan dua juta rupiah. Lantas dia berpikir, akan
lama kalau ia menabung. Bagaimana kalau ia
sedekahkan saja? Urusan Allah yang akan
melipatgandakan sedekahnya menjadi rizki baginya.
Lalu ia sedekahkan. Saudara, bila ini ia lakukan, Allah
Yang Maha Syakuur, Yang Maha Balas Jasa, akan
membuktikan janji-Nya. Di kemudian hari ia insya
Allah akan berangkat haji dengan rizki yang tidak ia
duga-duga sebelumnya.
Dan masih banyak lagi. Sekarang saudara hitung
masalah saudara, lalu saudara lihat-lihat di rumah dan di
sekeliling saudara; adakah sesuatu yang bisa saudara
infakkan di jalan Allah, seraya memohon pertolongan-Nya
dalam masalah saudara. Semakin besar sedekah saudara
maka pertolongan Allah pun akan semakin besar.

Bersambung……

Tinggalkan Komentar