Baiklah, untuk lebih masuk ke hati, kita bahas 2 dari
hadits Rasulullah, dan satu firman Allah berikut ini yang
berkenaan dengan cara menyelesaikan hutang segunung;
1. Wallâhu fî ‘anil ‘abdi mâ kânal ‘abdu fî ‘awni
akhîhi, Allah selalu berkenan membantu
hamba-Nya, selama hamba-Nya berkenan
membantu saudara-Nya. (al Hadits).
Inilah rahasia Allah yang tidak ada seorangpun tahu.
Kenapa juga mereka yang sulit justru harus mencari
mereka yang lebih sulit? Kenapa mereka yang susah justru
harus mencari mereka yang lebih susah? Dan kenapa
mereka yang menderita harus mencari mereka yang lebih
menderita? Malah bukan sekedar mencari, tetapi
membantu melepaskan kesulitannya, menolong
kesusahannya, dan meringankan penderitaannya.
Dalam konteks penyelesaian hutang, maka kita harus
cari orang-orang yang berhutang untuk kita bantu
bebaskan hutangnya; misalnya bebaskan hutang tetangga
kita di warung, bebaskan hutangnya yatim di sekolah (yang
terkait dengan spp sekolahnya), kita bebaskan mereka
yang berhutang ke kita (lantaran kesulitan ekonomi). Atau
boleh juga kita cari anak yatim untuk kita pelihara, kita cari
orang-orang miskin untuk kita bagi sebagian dari makanan
dan simpanan harta kita, dan kita bagikan obat-obatan dan
pakaian gratis, dan seterusnya.
Kiranya di antara sekian rahasianya adalah 4 hal berikut
ini;
Dengan membantu sesama, kita seolah disuruh
membuka mata dan melihat, betapa tidak layaknya
bicara kesusahan, di tengah adanya banyak orang yang
lebih susah dari diri kita. Terlalu banyak yang lebih
susah, terlalu banyak yang lebih menderita, yang
kemudian menjadikan kita tidak layak untuk bersedih.
Apalagi berputus asa. Tidak berlama-lama sedih dan
tidak berputus asa adalah awal yang bagus untuk
memulai sebuah perubahan dan perbaikan. Apalagi bila
ditambah dengan sebuah semangat. Semangat keluar
dari permasalahan. Semangat bisa membuat kita
memaksa diri kita untuk menatap langit, „tuk
melangkah keluar menciptakan sejarah kehidupan yang
baru.
Dengan melihat ke bawah, kita malah bisa bersyukur.
Bukan mengeluh. Bersyukur dan tidak mengeluh inilah
yang kemudian membawa ridha Allah masuk di tengah
kehidupan kita yang sedang bermasalah. Kata Allah,
hamba-Ku mengatakan mencintai-Ku, tapi ketika Aku
beri dia sedikit saja kesusahan, ia mengeluh. Katakan
padanya, sesungguhnya ia adalah pembohong. (Hadits
Qudsi). Dan teringatlah saya akan nasihat Imam Ali,
sebuah takdir (kejadian), kita suka tidak suka, senang
tidak senang, ridha tidak ridha, terima tidak terima, toh
ia akan terjadi juga. Andai kita menerima, maka bukan
saja kita akan mendapat pahala, tetapi juga mendapat
pertolongan dari Allah. Pertolongan Allah bisa berarti
dukungan dan kemudahan dari Allah.Terima saja dan syukuri. Lihat mereka yang lebih sulit, lebih susah dan
lebih menderita.
Di antara perbuatan yang membuat Allah senang
adalah membantu sesama. Banyak sekali ayat-ayat
Allah di dalam al Qur‟an yang Allah meminta kita
untuk ringan membantu sesama. Bahkan
sampai-sampai Allah memakai kata-kata, “Man dzalladzî yuqridullâha qardan hasanan… siapa yang bisa
meminjamkan Allah…” yang kemudian Allah menawarkan ganti yang lebih baik, “… fa yudhâ-ifahû
„adh-âfan mudhâ-afan…” Seolah-olah Allah yang perlu,
dan „merengek-rengek‟ kepada kita. Subhanallah,tidakkah kita malu kepada Allah?
Ada sahabat yang bertanya kepada Rasul, wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami meminjamkan Allah, sedangkan Dialah yang memberi makan, dan
tidak diberi makan? Dialah yang mencukupkan segala
kebutuhan, dan tidak memerlukan siapapun juga?
Rasulullah menjawab, meminjamkan Allah adalah dengan memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, meringankan beban
penderitaan sesama, dan bersedekah.
Akhirnya, ketika kita menjawab (memenuhi) permintaan Allah untuk membantu sesama, perbuatan itulah yang mengundang kesenangan dan keridhaan
Allah. Kalau Allah sudah senang sama kita, sudah ridha,tidak akan ada kesusahan yang boleh menjadi bagian dari kehidupan kita.
“… Sesungguhnya Aku beserta kamu jika kamu mendirikan
shalat, menunaikan zakat, beriman kepada Rasul-Rasul-Ku,
membantu mereka, dan kamu pinjamkan Allah dengan
pinjaman yang baik. Sesungguhnya Aku akan menghapus
dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke
dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka
barangsiapa yang kufur di antaramu sesudah itu, sesungguhnya
ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al Mâ-idah: 12).
Lihatlah, kalau Allah sudah beserta kita, maka tentu
masalah kita akan menjadi bukan masalah lagi. Karena
Allah begitu kuasa.
Dalam al Qur‟an bahkan Allah menyatakan, bukan saja
akan mengembalikan pinjaman yang kita berikan
dengan pengembalian yang lebih baik dan lebih banyak,
Dia juga memberikan bonus berupa ampunan. Kiranya,
bila dosa kita telah membuat begitu banyak kesusahan
terjadi, maka ampunan Allah memang sebuah hal yang
sangat-sangat kita perlukan;
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,
niscaya Allah melipatgandakan pembalasannya kepadamu dan
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi
Maha Penyantun.” (at Taghâbun: 17).
Atau di lain ayat Allah menyatakan akan
melipatgandakan amal hingga sepuluh (al An‟âm: 160)
bahkan hingga 700x lipat (al Baqarah: 261). Tentu saja
angka ini hanya sekedar menggambarkan betapa
besarnya balasan Allah terhadap mereka yang mau
melakukan amal baik (baca: sedekah).
Ketika kita membantu sesama, membantu mereka
yang sulit, sesungguhnya kita sedang “menghibur diri
sendiri”. Sehingga kita bisa berkata-kata; Apalah
kesusahan kita? Toh di tengah kesusahan kita, kita
masih bisa berjalan, masih bisa melihat. Sementara itu
banyak yang tidak bisa berjalan lantaran lumpuh, dan
banyak yang tidak bisa melihat lantaran buta; Apalah
penyakit kita? Toh di tengah penyakit kita, kita masih
bisa berobat, masih bisa jalan ke rumah sakit, masih ada
yang menemani. Sementara itu, banyak yang sakit, tapi
tidak ada obat, tidak bisa berobat, bahkan tidak ada
sanak saudara yang membantu; Apalah hutang kita?
Toh banyak juga yang sudah mah punya hutang, ia pun
masih dipenjara, dan disita hartanya; Apalah masalah
kita? Ketika kita bermasalah, kita masih memiliki
keluarga. Toh, tidak sedikit orang yang bermasalah dan
keluarganya kocar-kacir.
2. Bâdiru bishshadaqah, fa innal balâ-a lâ yatakhaththâha, bersegeralah bersedekah, karena bala (kesulitan, kesusahan, atau permasalahan),
tidak pernah bisa mendahului sedekah. (al Hadits).
Sedekah diyakini bisa berperan sebagai penolak bala.
Kiranya, hadits di atas tersebut bisa menjadi hadits
pendukung keyakinan ini. Dan nyatanya memang
demikian. Dalam konteks permasalahan, khususnya
permasalahan hutang, tentu seseorang akan menghadapi
kemungkinan intimidasi dan kemungkinan-kemungkinan
jelek lainnya. Hal ini biasa kalau memang punya hutang.
Utamanya kalau pas tidak ada kemampuan membayar.
Maka, bersedekah, menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar.
Seorang kawan bercerita, bahwa ia tidak punya uang
yang cukup untuk membayar hutangnya. Kalaupun ia
bayarkan, maka bukan saja uang tersebut tidak cukup
untuk membayar hutangnya (bahkan untuk angsuran saja
tidak cukup), tetapi ia juga tidak punya uang lagi. Maka
yang ia lakukan adalah membagi tiga. Sepertiga ia gunakan
untuk keperluan sehari-hari dan “ongkos jalan”, sepertiga
ia gunakan untuk “sedikit bahasa” untuk yang menagih,
dan sepertiganya lagi ia sedekahkan. Dan ia mengaku, di
kemudian hari ia berhasil membayar hutangnya.
Seorang jamaah majlis yang kebetulan punya jadwal
jatuh tempo hutang yang kelewat batas, pun memilih
mengeluarkan sedekahnya untuk “meredam marahnya”
mereka yang menagih. Dan efektif! Menagih sih memang
menagih tuh petugas, tapi “tensinya” sudah tidak tinggi.
Lain lagi cerita seorang kawan yang kena wasir. Suatu
hari ketika ia terbaring lemah di rumah sakit, datanglah
keputusan dokter bahwa ia harus dioperasi untuk wasirnya.
Lantaran ia takut dioperasi, dan tahu keutamaan sedekah
bahwa sedekah bisa menghilangkan bala (dan ia
menganggap bala itu termasuk penyakit), maka yang ia
lakukan adalah bertanya kepada istrinya, “mah, berapa
tabungan yang kamu punya?” Istrinya menjawab, “…
Sekian…” Lalu ia berkata, “Mah, daripada uang itu dipake
buat operasi, mendingan Mamah pulang aja. Sedekahin
tuh uang buru-buru. Papah pengen pulang besok.”
Tahu ga pembaca, wasirnya malah sembuh! Tanpa
operasi. Hanya dengan jalan sedekah.
3. Wa man qudira ‘alaihi rizquhû, falyunfiq mimmâ
âtâhullâh, dan barangsiapa yang sedang
disempitkan rizkinya, maka hendaklah ia
banyak-banyak menginfakkan hartanya yang
diberikan Allah. (ath Thalâq: 7).
Banyak orang yang hadir ke Majlis dzikir untuk
konseling permasalahan ini dan itu, termasuk hutang. Dan
terapi (jawaban) yang diberikan adalah memperbanyak
sedekah saja. Karena sedekah bisa mengundang datangnya
rezeki yang lebih besar. Dan begitulah yang ditegaskan
oleh Allah di ayat yang dikutip di atas. Pada saat sempit
rizki, justru kita harus berbagi, justru kita harus
bersedekah.
Sebagiannya ada yang bertanya, kan kami tidak uang,
dan kami justru dalam keadaan sulit? Saudara, kalau kita
mau, maka ada saja jalan untuk bersedekah. Di satu sisi,
boleh jadi kita tidak punya uang (baca: uang cash), tapi
lihatlah aset di rumah. Mungkin kita punya tanah yang bisa
kita wakafkan, mungkin kita punya benda elektronik yang
bisa kita jual untuk kemudian kita sedekahkan, mungkin
kita punya emas yang bisa kita jual juga, dan mungkin kita punya-punya yang lainnya yang bisa kita “kecilin”, alias
kita jadikan ia uang. Atau kita sumbangkan langsung
secara fisiknya tanpa menunggu ia menjadi uang. Nah, bila
kita bisa begini, maka kemungkinan besar kita akan
dimudahkan oleh Allah segala urusan dan diberikan rizki
yang banyak.
Sebuah pengorbanan juga akan dilihat Allah. Kecil
pengorbanannya maka kecil pula bantuan Allah yang
datang. Besar pengorbanannya maka besar pula bantuan
Allah yang datang. Tentu saja keikhlasan tetap menjadi
prasyarat yang utama, karena biar bagaimanapun kecil dan
besarnya perngorbanan adalah hal yang relatif sifatnya.
Dalam hal besar kecilnya pengorbanan, Allah
berfirman, lan tanâlul birra hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn,
kalian tidak akan mencapai kebaikan, sampai kalian bisa
mengorbankan apa yang kalian cintai. (Âli Imrân: 92). Dalam
urusan hutang, maka kebaikan yang dimaksud adalah
kemampuan menyelesaikan hutang. Sedang kebaikan bagi
yang sakit adalah kesembuhan dari sakitnya, kebaikan bagi
orang yang sedang surut bisnisnya adalah naik lagi
bisnisnya, jaya lagi bisnisnya, dan seterusnya.
Sungguh aneh, jika kemudian ada orang-orang yang
sedang bermasalah dalam urusan rezeki, lalu tidak
menyambut penawaran dari Allah ini.
Satu hal yang mau saya garis bawahi, bahwa sedekah
memang bisa benar-benar membuat Anda menjadi bisa
bayar hutang, menyelamatkan Anda dari kemungkinan
bahaya, dan membuat rizki Anda menjadi berlipat-lipat.
Sungguh, di lain waktu, saya akan membahas perihal
keutamaan sedekah ini lebih lengkap dan lebih luas lagi.
Insya Allah.
Fadilah sedekah itu ada empat; mengundang datangnya
rezeki, menghalau kesulitan, menyembuhkan penyakit,
dan memperpanjang umur. (al Hadits).
Bersambung…..