🎉📣 Kabar gembira bagi semua distributor Shuang Hor Indonesia! 🎉📣 Produk Kopi, kebanggaan Group Shuang Hor, kini telah resmi dipasarkan dan dijual di Indonesia. ☕️
Di luar Indonesia, produk ini dikenal dengan nama CEO Cafe/Kopi CEO. Namun, khusus untuk Indonesia, produk ini dipasarkan dan dijual dengan nama baru yang begitu memukau, yaitu “SH Juwara Cafe”. 💫
Tak perlu diragukan lagi, dengan nama barunya, produk kopi ini adalah juara sejati dalam hal rasa dan manfaat yang diberikan. 👑
👉 Nikmati sensasi kelezatan dan kenikmatan yang tiada tara dalam secangkir kopi SH Juwara Cafe. Rasanya yang memikat dan aroma yang menggoda akan menghidupkan selera Anda setiap harinya. ☕️💖
Bukan hanya tentang rasa yang menggugah selera, tetapi juga tentang manfaat yang luar biasa dari SH Juwara Cafe. Diperkaya dengan bahan-bahan alami yang berkualitas tinggi, kopi ini dapat memberikan energi, meningkatkan konsentrasi, dan memberikan dorongan positif bagi kesehatan Anda. 💪🌿
Jangan lewatkan kesempatan ini! Bergabunglah dengan ribuan orang yang telah merasakan manfaat luar biasa dari SH Juwara Cafe. Jadilah bagian dari keluarga Shuang Hor yang sukses dan sejahtera. 💼💰
Dapatkan kesehatan, kekayaan, dan kebebasan waktu dengan bergabung dalam tim kami. Bersama-sama, kita dapat mencapai impian dan tujuan kita, dan menjalani kehidupan yang lebih baik. 🌟💪
🔥 Ayo segera bergabung! Daftarkan diri Anda secara GRATIS sekarang juga dan nikmati kesempatan luar biasa untuk meraih keberhasilan finansial dan kebahagiaan hidup. 📝💥
Bergabunglah dengan kami di Shuang Hor dan rasakan perbedaannya! 💫💚
Juwara Kopi: Kopi dengan Dukungan R&D yang Luar Biasa, Tidak Ada Lagi Alasan untuk Minum Kopi Asal Jadi! ☕️💯
Shuanghor (Double Crane) telah menjadi ahli dan pemimpin pasar dalam dunia Ganoderma sejak tahun 1987. 🕊🍄
Shuanghor memiliki rumah kaca Ganoderma terbesar di dunia dan memiliki tim peneliti yang kuat dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam penelitian Ganoderma. 🌿🧪
Bahkan JUWARA Coffee membutuhkan waktu 4 tahun dalam penelitian dan pengembangan untuk kesempurnaannya.
Shuanghor menaruh hati dan usaha untuk memberikan yang terbaik bagi kita. ❤️✨
Jika kamu ingin mencoba JUWARA Coffee, jangan ragu untuk menghubungi saya. ☕️🎉
MANFAAT GANODERMA UNTUK ASAM LAMBUNG Ganoderma, juga dikenal sebagai Reishi atau King Of Herbs, adalah jamur herbal yang telah digunakan dalam pengobatan tradisional selama ribuan tahun. Salah satu manfaatnya adalah membantu mengatasi masalah asam lambung. Berikut adalah beberapa manfaat Ganoderma untuk asam lambung:
Menyeimbangkan produksi asam lambung: Ganoderma memiliki sifat adaptogenik, yang berarti ia dapat membantu mengatur fungsi tubuh. Dalam hal asam lambung, Ganoderma dapat membantu menstabilkan produksi asam lambung, mengurangi risiko kelebihan asam yang dapat menyebabkan gejala asam lambung.
Mengurangi gejala refluks asam: Ganoderma dapat membantu mengurangi gejala refluks asam, seperti nyeri dada, sensasi terbakar, dan rasa asam di tenggorokan. Ini karena Ganoderma memiliki sifat antiinflamasi dan dapat membantu mengurangi peradangan pada saluran pencernaan.
Memperbaiki fungsi pencernaan: Ganoderma dapat membantu meningkatkan fungsi pencernaan secara keseluruhan. Ini termasuk meningkatkan proses pencernaan makanan, mengurangi kemungkinan penumpukan asam lambung yang berlebihan, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.
Melindungi lapisan lambung: Ganoderma memiliki sifat pelindung terhadap lapisan mukosa lambung. Ini membantu mencegah kerusakan dan iritasi pada dinding lambung akibat paparan asam lambung yang berlebihan.
Membantu mengatasi stres: Stres dapat menjadi faktor pemicu peningkatan produksi asam lambung. Ganoderma memiliki sifat adaptogenik yang dapat membantu menenangkan sistem saraf, mengurangi stres, dan dengan demikian mengurangi risiko peningkatan produksi asam lambung.
Mengeluarkan Sebagian Dari Yang Kita Cintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِ نَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.”(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 92) Setelah ayat ini turun para Sahabat Rosulullah SAW berlomba mencari […]
Saudara seikhwan yang di Rahmati Alloh,yang sedang sama sama belajar untuk mengamalkan dzikir toriqoh,perlu diketahui bahwa bibit dzikir yang telah ditanam meskipun lama tidak di amalkan dia tetap akan tertanam didalam qolbu.
Cuma ada dua hal yang membuat talqin itu rontok
1. Karena murtad
Pengertian Murtad
Menurut bahasa murtad adalah meninggalkan atau keluar dari suatu agama. Dan menurut istilah murtad berarti meninggalkan atau keluar dari agama Islam dan memeluk agama lain sehingga hukumnya menjadi kafir. Apabila sudah dinasihati untuk kembali kepada agama Islam namun tidak mau kembali maka orang tersebut terkena ancaman dosa besar.
Dalam pengertian sempit secara struktural thoriqoh, murtad bisa di artikan keluar dari pakem atau aturan aturan amaliyah yang telah ditetapkan dan diajarkan oleh seorang guru Mursyid.
2.Suul adab terhadap guru
Pengertian suul adab ialah tak punya adab alias berperilaku buruk atau tidak tahu sopan santun
Dalam perjalanan bertarekat, menjaga adab merupakan sesuatu yang prinsip (asas, dasar) untuk memastikan perjalanan menuju Allah (suluk) mencapai maksud dan tujuannya.
Beberapa adab murid kepada Guru Mursyid adalah:
1. Yakin dan percaya
Seorang murid harus memiliki keyakinan penuh bahwa maksud dan perjalanan suluknya tidak akan selamat tanpa peran dan perantaraan Guru Mursyid.
Tanpa berpegang teguh pada ajaran dan arahan guru, seorang murid tidak akan terfasilitasi dalam mengatasi setiap rintangan dan godaan yang seringkali samar dan tidak terlihat dari pandangan mata seorang murid.
Jangan sekalipun kita meragukan peran Mursyid dalam membimbing, mengawasi, dan mengawal perjalanan kita. Terlebih ketika misalnya kita ditempatkan pada suatu hal dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan kehendak kita. Jangan pernah berpikir bahwa sang Mursyid tidak mau peduli, mengabaikan, atau meninggalkan kita.
Satu yang perlu kita ingat bahwa seorang Mursyid sangat amat kasih dan sayangnya kepada semua muridnya. Bahkan beliau jaminkan dirinya untuk keselamatan dan kebahagiaan murid-muridnya, yaitu untuk keselamatan dunia dan akhirat, untuk kebahagiaan dzahir dan bathin.
Di sisi lain, seorang Mursyid adalah kekasih Allah, yang diberikan limpahan kuasa untuk memberi pertolongan dan ijabah untuk para muridnya. Seorang Mursyid memiliki pandangan tajam dalam memilihkan jalan dan keadaan terbaik untuk muridnya.
Jangan pernah berpikir untuk berhenti dalam bertarekat atau berpindah Mursyid hanya karena hal dan keadaan kita tidak kunjung juga sesuai dengan harapan dan keinginan kita.
2. Patuh dan Melayani (Khidmat)
Seorang Murid harus mengikuti secara penuh apa-apa yang diajarkan oleh Guru Mursyidnya. Kepatuhan seorang Murid ditunjukkan dengan menjalankan wirid-wirid hanya sesuai dengan yang diajarkan. Jangan sampai kita mengubah ajaran guru atau menambah dengan menyisipkan bacaan hanya karena kita merasa yang kita sisipkan adalah bacaan yang mempunyai fadhilah yang bagus atau kaifiat yang mantap.
Sungguh, bahwa amaliah yang diberikan oleh Guru kepada Muridnya itu sudah sempurna dan jauh lebih baik daripada dugaan dan penilaian yang terlahir dari keterbatasan ilmu kita.
Selain itu, karena jauhar-nya iradah dan mahabbah tidak akan didapatkan seorang murid kecuali dengan tunduk, patuh, dan khidmat (melayani) Guru Mursyid, maka diantara adab seorang murid adalah mewujudkan khidmat kepada guru dengan rasa senang, rela, dan ikhlas hanya karena Allah Swt.
3. Tidak menduakan Guru Mursyid
Menduakan dalam hal ini maksudnya adalah menjalankan amaliah dari dua tarekat sekaligus. Mengambil ijazah dari Mursyid lain dan mengamalkan ajaran thariqah lain di luar yang diajarkan oleh Guru, sama saja meragukan Mursyid kita. Hal inilah yang sering tidak disadari dan seringkali menjadi sebab timbulnya kebingungan dan menjadi gagalnya perjalanan seseorang.
Amaliah TQN itu simple. Apa yang diajarkan, lakukan, genggam erat, istiqamahkan.
Apa saja aspek warisan budaya yang paling Anda banggakan atau menarik bagi Anda?
Warisan budaya yang paling saya banggakan diantaranya warisan para wali Alloh seperti wayang golek,dan warisan budaya yang melekat pada adat istiadat yang membentuk kultur bangsa Indonesia.
Wayang golek adalah salah satu seni pertunjukan tradisional Indonesia yang menarik dan kaya akan budaya. Seni ini menggunakan boneka kayu yang diukir dengan indah dan dipakai oleh dalang (pemain) untuk menghidupkan karakter-karakter dalam cerita.
Wayang golek berasal dari Jawa barat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia. Boneka kayu yang digunakan memiliki berbagai karakteristik dan didekorasi dengan kostum yang kaya akan warna dan detail. Setiap boneka memiliki kepribadian dan peran dalam cerita yang mereka ceritakan.
Wayang golek biasanya dipentaskan di atas panggung kecil dengan pengaturan lampu yang khusus. Dalang menggunakan tangan mereka untuk menggerakkan boneka-boneka tersebut, sambil memberikan suara dan dialog untuk setiap karakter. Mereka juga menggunakan berbagai alat musik tradisional seperti gamelan sebagai pengiring musik.
Wayang golek bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga merupakan media yang mengantar nilai-nilai budaya, moral, dan sejarah. Cerita-cerita yang diperankan melibatkan tokoh-tokoh epik seperti Ramayana dan mahabrata, serta cerita-cerita lokal yang merupakan kebaikan, keadilan, dan keahlian.
Sayangnya,seni wayang golek menghadapi tantangan di era modern ini. Pengaruh budaya asing dan perubahan gaya hidup telah mengurangi minat masyarakat terhadap seni tradisional ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenalkan dan membawa Wayang Golek sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.
Mengenal wayang golek adalah cara untuk memahami lebih dalam tentang seni, budaya, dan sejarah Indonesia. Dengan mempelajari dan mengapresiasi seni ini, kita dapat menghargai warisan warisan nenek moyang kita dan memastikan bahwa wayang golek tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang. Mari kita terus mempromosikan dan mendukung seni Wayang Golek sebagai bagian penting dari identitas budaya indonesia.
Baiklah, untuk lebih masuk ke hati, kita bahas 2 dari hadits Rasulullah, dan satu firman Allah berikut ini yang berkenaan dengan cara menyelesaikan hutang segunung;
1. Wallâhu fî ‘anil ‘abdi mâ kânal ‘abdu fî ‘awni akhîhi, Allah selalu berkenan membantu hamba-Nya, selama hamba-Nya berkenan membantu saudara-Nya. (al Hadits).
Inilah rahasia Allah yang tidak ada seorangpun tahu. Kenapa juga mereka yang sulit justru harus mencari mereka yang lebih sulit? Kenapa mereka yang susah justru harus mencari mereka yang lebih susah? Dan kenapa mereka yang menderita harus mencari mereka yang lebih menderita? Malah bukan sekedar mencari, tetapi membantu melepaskan kesulitannya, menolong kesusahannya, dan meringankan penderitaannya.
Dalam konteks penyelesaian hutang, maka kita harus cari orang-orang yang berhutang untuk kita bantu bebaskan hutangnya; misalnya bebaskan hutang tetangga kita di warung, bebaskan hutangnya yatim di sekolah (yang terkait dengan spp sekolahnya), kita bebaskan mereka yang berhutang ke kita (lantaran kesulitan ekonomi). Atau boleh juga kita cari anak yatim untuk kita pelihara, kita cari orang-orang miskin untuk kita bagi sebagian dari makanan dan simpanan harta kita, dan kita bagikan obat-obatan dan pakaian gratis, dan seterusnya.
Kiranya di antara sekian rahasianya adalah 4 hal berikut ini; Dengan membantu sesama, kita seolah disuruh membuka mata dan melihat, betapa tidak layaknya bicara kesusahan, di tengah adanya banyak orang yang lebih susah dari diri kita. Terlalu banyak yang lebih susah, terlalu banyak yang lebih menderita, yang kemudian menjadikan kita tidak layak untuk bersedih. Apalagi berputus asa. Tidak berlama-lama sedih dan tidak berputus asa adalah awal yang bagus untuk memulai sebuah perubahan dan perbaikan. Apalagi bila ditambah dengan sebuah semangat. Semangat keluar dari permasalahan. Semangat bisa membuat kita memaksa diri kita untuk menatap langit, „tuk melangkah keluar menciptakan sejarah kehidupan yang baru. Dengan melihat ke bawah, kita malah bisa bersyukur. Bukan mengeluh. Bersyukur dan tidak mengeluh inilah yang kemudian membawa ridha Allah masuk di tengah kehidupan kita yang sedang bermasalah. Kata Allah, hamba-Ku mengatakan mencintai-Ku, tapi ketika Aku beri dia sedikit saja kesusahan, ia mengeluh. Katakan padanya, sesungguhnya ia adalah pembohong. (Hadits Qudsi). Dan teringatlah saya akan nasihat Imam Ali, sebuah takdir (kejadian), kita suka tidak suka, senang tidak senang, ridha tidak ridha, terima tidak terima, toh ia akan terjadi juga. Andai kita menerima, maka bukan saja kita akan mendapat pahala, tetapi juga mendapat pertolongan dari Allah. Pertolongan Allah bisa berarti dukungan dan kemudahan dari Allah.Terima saja dan syukuri. Lihat mereka yang lebih sulit, lebih susah dan lebih menderita. Di antara perbuatan yang membuat Allah senang adalah membantu sesama. Banyak sekali ayat-ayat Allah di dalam al Qur‟an yang Allah meminta kita untuk ringan membantu sesama. Bahkan sampai-sampai Allah memakai kata-kata, “Man dzalladzî yuqridullâha qardan hasanan… siapa yang bisa meminjamkan Allah…” yang kemudian Allah menawarkan ganti yang lebih baik, “… fa yudhâ-ifahû „adh-âfan mudhâ-afan…” Seolah-olah Allah yang perlu, dan „merengek-rengek‟ kepada kita. Subhanallah,tidakkah kita malu kepada Allah? Ada sahabat yang bertanya kepada Rasul, wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami meminjamkan Allah, sedangkan Dialah yang memberi makan, dan tidak diberi makan? Dialah yang mencukupkan segala kebutuhan, dan tidak memerlukan siapapun juga? Rasulullah menjawab, meminjamkan Allah adalah dengan memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, meringankan beban penderitaan sesama, dan bersedekah. Akhirnya, ketika kita menjawab (memenuhi) permintaan Allah untuk membantu sesama, perbuatan itulah yang mengundang kesenangan dan keridhaan Allah. Kalau Allah sudah senang sama kita, sudah ridha,tidak akan ada kesusahan yang boleh menjadi bagian dari kehidupan kita.
“… Sesungguhnya Aku beserta kamu jika kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada Rasul-Rasul-Ku, membantu mereka, dan kamu pinjamkan Allah dengan pinjaman yang baik. Sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kufur di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al Mâ-idah: 12). Lihatlah, kalau Allah sudah beserta kita, maka tentu masalah kita akan menjadi bukan masalah lagi. Karena Allah begitu kuasa. Dalam al Qur‟an bahkan Allah menyatakan, bukan saja akan mengembalikan pinjaman yang kita berikan dengan pengembalian yang lebih baik dan lebih banyak, Dia juga memberikan bonus berupa ampunan. Kiranya, bila dosa kita telah membuat begitu banyak kesusahan terjadi, maka ampunan Allah memang sebuah hal yang sangat-sangat kita perlukan; “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan pembalasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (at Taghâbun: 17). Atau di lain ayat Allah menyatakan akan melipatgandakan amal hingga sepuluh (al An‟âm: 160) bahkan hingga 700x lipat (al Baqarah: 261). Tentu saja angka ini hanya sekedar menggambarkan betapa besarnya balasan Allah terhadap mereka yang mau melakukan amal baik (baca: sedekah).
Ketika kita membantu sesama, membantu mereka yang sulit, sesungguhnya kita sedang “menghibur diri sendiri”. Sehingga kita bisa berkata-kata; Apalah kesusahan kita? Toh di tengah kesusahan kita, kita masih bisa berjalan, masih bisa melihat. Sementara itu banyak yang tidak bisa berjalan lantaran lumpuh, dan banyak yang tidak bisa melihat lantaran buta; Apalah penyakit kita? Toh di tengah penyakit kita, kita masih bisa berobat, masih bisa jalan ke rumah sakit, masih ada yang menemani. Sementara itu, banyak yang sakit, tapi tidak ada obat, tidak bisa berobat, bahkan tidak ada sanak saudara yang membantu; Apalah hutang kita? Toh banyak juga yang sudah mah punya hutang, ia pun masih dipenjara, dan disita hartanya; Apalah masalah kita? Ketika kita bermasalah, kita masih memiliki keluarga. Toh, tidak sedikit orang yang bermasalah dan keluarganya kocar-kacir.
2. Bâdiru bishshadaqah, fa innal balâ-a lâyatakhaththâha, bersegeralah bersedekah, karenabala (kesulitan, kesusahan, atau permasalahan), tidak pernah bisa mendahului sedekah. (alHadits). Sedekah diyakini bisa berperan sebagai penolak bala. Kiranya, hadits di atas tersebut bisa menjadi hadits pendukung keyakinan ini. Dan nyatanya memang demikian. Dalam konteks permasalahan, khususnya permasalahan hutang, tentu seseorang akan menghadapi kemungkinan intimidasi dan kemungkinan-kemungkinan jelek lainnya. Hal ini biasa kalau memang punya hutang.
Utamanya kalau pas tidak ada kemampuan membayar. Maka, bersedekah, menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Seorang kawan bercerita, bahwa ia tidak punya uang yang cukup untuk membayar hutangnya. Kalaupun ia bayarkan, maka bukan saja uang tersebut tidak cukup untuk membayar hutangnya (bahkan untuk angsuran saja tidak cukup), tetapi ia juga tidak punya uang lagi. Maka yang ia lakukan adalah membagi tiga. Sepertiga ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan “ongkos jalan”, sepertiga ia gunakan untuk “sedikit bahasa” untuk yang menagih, dan sepertiganya lagi ia sedekahkan. Dan ia mengaku, di kemudian hari ia berhasil membayar hutangnya. Seorang jamaah majlis yang kebetulan punya jadwal jatuh tempo hutang yang kelewat batas, pun memilih mengeluarkan sedekahnya untuk “meredam marahnya” mereka yang menagih. Dan efektif! Menagih sih memang menagih tuh petugas, tapi “tensinya” sudah tidak tinggi. Lain lagi cerita seorang kawan yang kena wasir. Suatu hari ketika ia terbaring lemah di rumah sakit, datanglah keputusan dokter bahwa ia harus dioperasi untuk wasirnya. Lantaran ia takut dioperasi, dan tahu keutamaan sedekah bahwa sedekah bisa menghilangkan bala (dan ia menganggap bala itu termasuk penyakit), maka yang ia lakukan adalah bertanya kepada istrinya, “mah, berapa tabungan yang kamu punya?” Istrinya menjawab, “… Sekian…” Lalu ia berkata, “Mah, daripada uang itu dipake buat operasi, mendingan Mamah pulang aja. Sedekahin tuh uang buru-buru. Papah pengen pulang besok.” Tahu ga pembaca, wasirnya malah sembuh! Tanpa operasi. Hanya dengan jalan sedekah.
3. Wa man qudira ‘alaihi rizquhû, falyunfiq mimmâ âtâhullâh, dan barangsiapa yang sedang disempitkan rizkinya, maka hendaklah ia banyak-banyak menginfakkan hartanya yang diberikan Allah. (ath Thalâq: 7). Banyak orang yang hadir ke Majlis dzikir untuk konseling permasalahan ini dan itu, termasuk hutang. Dan terapi (jawaban) yang diberikan adalah memperbanyak sedekah saja. Karena sedekah bisa mengundang datangnya rezeki yang lebih besar. Dan begitulah yang ditegaskan oleh Allah di ayat yang dikutip di atas. Pada saat sempit rizki, justru kita harus berbagi, justru kita harus bersedekah. Sebagiannya ada yang bertanya, kan kami tidak uang, dan kami justru dalam keadaan sulit? Saudara, kalau kita mau, maka ada saja jalan untuk bersedekah. Di satu sisi, boleh jadi kita tidak punya uang (baca: uang cash), tapi lihatlah aset di rumah. Mungkin kita punya tanah yang bisa kita wakafkan, mungkin kita punya benda elektronik yang bisa kita jual untuk kemudian kita sedekahkan, mungkin kita punya emas yang bisa kita jual juga, dan mungkin kita punya-punya yang lainnya yang bisa kita “kecilin”, alias kita jadikan ia uang. Atau kita sumbangkan langsung secara fisiknya tanpa menunggu ia menjadi uang. Nah, bila kita bisa begini, maka kemungkinan besar kita akan dimudahkan oleh Allah segala urusan dan diberikan rizki yang banyak. Sebuah pengorbanan juga akan dilihat Allah. Kecil pengorbanannya maka kecil pula bantuan Allah yang datang. Besar pengorbanannya maka besar pula bantuan Allah yang datang. Tentu saja keikhlasan tetap menjadi prasyarat yang utama, karena biar bagaimanapun kecil dan besarnya perngorbanan adalah hal yang relatif sifatnya. Dalam hal besar kecilnya pengorbanan, Allah berfirman, lan tanâlul birra hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn, kalian tidak akan mencapai kebaikan, sampai kalian bisa mengorbankan apa yang kalian cintai. (Âli Imrân: 92). Dalam urusan hutang, maka kebaikan yang dimaksud adalah kemampuan menyelesaikan hutang. Sedang kebaikan bagi yang sakit adalah kesembuhan dari sakitnya, kebaikan bagi orang yang sedang surut bisnisnya adalah naik lagi bisnisnya, jaya lagi bisnisnya, dan seterusnya. Sungguh aneh, jika kemudian ada orang-orang yang sedang bermasalah dalam urusan rezeki, lalu tidak menyambut penawaran dari Allah ini.
Satu hal yang mau saya garis bawahi, bahwa sedekah memang bisa benar-benar membuat Anda menjadi bisa bayar hutang, menyelamatkan Anda dari kemungkinan bahaya, dan membuat rizki Anda menjadi berlipat-lipat. Sungguh, di lain waktu, saya akan membahas perihal keutamaan sedekah ini lebih lengkap dan lebih luas lagi. Insya Allah. Fadilah sedekah itu ada empat; mengundang datangnya rezeki, menghalau kesulitan, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang umur. (al Hadits).
Allahu Akbar, Allah itu Maha Besar. Dia jelas lebih besar daripada “hutang kita”. Kenapa kita tidak melirik kepada Kebesaran-Nya ini? Dewasa ini hutang merupakan penyakit sosial, dan penyakit massal. Dikatakan demikian, sebab nyatanya hampir lebih dari separuh penduduk, punya hutang! Hutang riil, bukan hutang negara. Di antara para penghutang, ada yang hutangnya seolah tak terbayarkan karena setinggi gunung. Ada juga yang tak terbayarkan karena tidak tahu dengan apa hutang bisa dibayar. Tapi ada juga para penghutang yang berkategori aman. Alias penghasilannya masih cukup buat bayar hutang. Sepuluh Hal Yang Bisa Meringankan Beban beban memang berat bila dibawa sendirian. maka berbagilah dengan Allah. Tulisan kali ini, khusus untuk Anda yang hutangnya besar, atau sangat besar. Apalagi kalau kemudian hutang-hutang Anda ini membuat leher Anda begitu tersekat. Karena ini pernah terjadi pada Luqman; tokoh utama dalam Wisata Hati yang kehidupannya dijadikan media pembelajaran dan tadzkirah. Dan Luqman bisa sedikit meringankan bebannya dengan menerapkan strategi berikut ini. Sekedar catatan, bagi Anda yang tidak memiliki hutang, tapi memiliki permasalahan lain,cara-cara yang akan dipaparkan ini bisa juga Anda pakai.
Sesuaikan saja dengan keadaan permasalahan yang sedang terjadi. Kepada Allah jua kita hdapkan permasalahan hidup dan kehidupan kita.
1.Pahami pesan permasalahan dan mohonkan ampun atas kesalahan dan keburukan. Sikapi dulu, pahami dulu, kenapa sampai hutang muncul dan membesar. Bila ini ada kebiasaan dari sifat yang kepengen senang tanpa perjuangan (instan), minta ampun dulu. Hal ini sama saja dengan cara menghadapi permasalahan yang lain selain hutang. Yaitu dengan memohon ampun setelah melakukan pemuhasabahan [pengkoreksian diri]. Pahamilah, bahwa kesempitan hidup bisa muncul, sebabnya adalah kita jauh dari kita punya Tuhan, jauh dari Allah; Mungkin shalat kita belang belentong, kita tiada hormat sama orang tua, kita tiada sayang sama keluarga, kita tiada menghormati hak tetangga, kita mudah menzalimi orang, kita boros, kita berkawan sama teman-teman yang jauh dari Allah, dan hal-hal negatif lainnya yang menandakan kita sudah jauh dari Allah; “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…” (Thâha: 124). Salah satu bentuk kesempitan hidup adalah adanya hutang yang tidak terbayar atau piutang yang tidak kunjung tertagih. Bentuk kesempitan yang lain adalah apapun bentuknya yang dirasakan sebagai kesusahan oleh manusia pada umumnya; seperti penyakit yang menahun, kemiskinan yang penuh dengan duka dan derita, kebangkrutan yang menghempaskan kita dari kehidupan normal, hilangnya pekerjaan, rumah tangga yang tidak sakinah, dan sebagainya. Maka untuk mengubah keadaan menjadi baik, atau menjadi lebih baik dari sebelumnya, perlu kiranya kita melayangkan permintaan maaf dulu kepada Allah „azza wa jalla; “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Allah akan menutup kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (at Tahrîm: 8).
Andai hutang adalah akibat kesalahan, maka dengan diawali permohonan ampun kepada Allah, insya Allah, berdasarkan ayat tersebut, kesalahan tersebut akan ditutup oleh Allah. Dan surga yang disebut di ayat tersebut bisa kita terjemahkan ke pengertian suasana yang penuh dengan kenikmatan. Bukankah kenikmatan adanya bila ketenangan kembali menghiasi hidup? Bukankah kenikmatan adanya bila hutang bisa terbayar? Bukankah kenikmatan adanya bila hidup kembali normal, dengan keluarga bisa ngumpul, tidak lari-larian terus? Surga adalah kenikmatan. Dan kita kejarlah surga dunia dengan memohon ampun kepada Allah.
Untuk tahap awal, dan sekaligus sebagai riyadhah (latihan), biasakanlah dulu mengucap kalimat istighfar (astaghfirullâh); “Barangsiapa yang membiasakan diri beristighfar, Allah akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitannya, menjadikan kelapangan bagi kesempitannya, dan memberikannya rizki dari hal-hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.” (al Hadits).
Pupuk kembali keimanan dan perbanyak amal kebaikan. Setelah memohon ampun, lanjutkan terus dengan kembali beriman dan beramal saleh (untuk menebus kesalahan). Saudara, permohonan ampun sangat terkait dengan perbaikan hidup, perubahan kualitas hidup. Tapi sekedar memohon ampun, jelas tidak cukup. Ini didasarkan pada surah al Furqân: 70; “(Akan ditambahkan kesusahannya kelak di hari kiamat, dan akan dihinakan) kecuali orang-orang bertaubat (yang menghentikan langkah buruknya), beriman, dan beramal saleh. Mereka inilah orang-orang yang keburukannya digantikan Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Keburukan bagi yang berhutang, kan, tidak bisa bayar hutangnya. Maka, awali dulu dengan permohonan ampun. Tapi sebelum diubah keadaannya, pupuk iman supaya bisa melakukan amal saleh yang bisa mengimbangi keinginan dan masalah kita. Sekarang coba kita perhatikan redaksi ini “kecuali mereka yang bertaubat, beriman dan beramal saleh…”. Kenapa diantara kewajiban amal saleh dan taubat, ada kalimat beriman? Karena perlu iman untuk melakukan amal saleh.Selain tanpa iman, amal saleh tidak dianggap, ia pun menjadi dorongan agar kita kudu percaya; dengan kita melakukan amal saleh, maka keburukan kita akan diubah menjadi kebaikan. Semakin besar kepercayaan kita sama Allah, maka akan semakin besar juga amal kita. Kira-kira begitu, insya Allah.Dan kenapa juga iman dan amal saleh harus didahului taubat? Karena tanpa bertaubat dulu, iman dan amal saleh tidak akan bisa “bunyi”, tidak akan punya pengaruh bagi perbaikan hidup. Minta ampun dulu, pupuk keimanan,dan berjuanglah memupuk amal saleh. Lagipun kata Allah dan Rasul-Nya, kebaikan akan menghapus keburukan.
Kembangkan pikiran positif dan jangan biarkan pikiran negatif bermain. Jangan biarkan pikiran negatif bermain. Paling tidak hibur diri dengan pikiran-pikiran positif. Ini perlu latihan. Setidaknya coba lihat apa yang masih tersisa di hidup dan kehidupan kita. Kita punya hutang, tapi masih bisa berlari, karena punya kaki. Bagaimana mereka yang tidak punya kaki. Terus lagi misalnya, kita punya hutang besar, dan agak-agak mustahil ga kebayar, tapi kita masih dikasih mata, lumayan. Intinya mengembangkan kepositifan berpikir. Jujur saja, memang kita seringkali dipenjara oleh pemikiran negatif kita sendiri. Kita menganggap kesusahan yang terjadi sudah seperti neraka, dan seakan kita sudah mengalami yang namanya kiamat.
Berikut ini beberapa contoh pemikiran negatif: Dalam posisi berhutang, kita ketakutan ditagih. Padahal kalau dihadapi baik-baik pun orang juga akan baik juga. Dan biasanya akan ada jalan keluarnya. Kita memenjarakan diri kita dengan pemikiran negatif bahwa hutang kita tidak akan mungkin pernah bisa terbayar. Siapa bilang? Kan ada Allah dengan Segala Keajaiban-Nya? Jangan menyerah dulu dengan keadaan. Ingat, kondisi negatif pertama kali dibentuk oleh pikiran-pikiran negatif. Kita menganggap hidup kita berantakan. Ini juga sering bermain di dalam pikiran kita. Kita menganggap hidup kita sudah “finish”, sudah berakhir. Akhirnya kita mati langkah sendiri, hanya mengurung diri di kamar, tanpa mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat. Bila sudah begini, yang sering terjadi adalah kita seperti sedang menghitung hari kematian. Deg-degan terus, sementara kita hanya berdiam diri saja. Oleh karenanya, penting sekali mengembangkan pikiran-pikiran positif. Tapi memang, orang-orang salah mah, sudah ketetapan Allah mereka ketakutan dengan kesalahan-kesalahannya apabila ditampakkan Allah; “Kamu lihat orang-orang yang zalim ketakutan dengan keburukan-keburukan yang telah mereka lakukan,Sedang akibat buruk perbuatan buruk biar bagaimanapun juga tetap akan menimpa mereka…” (asy Syûrâ: 22). Tapi insya Allah, dengan iradah Allah, semua hal yang buruk-buruk segera digantikan dengan yang baik-baik. Dan ini sekali lagi bisa kita dapatkan dengan memohon petunjuk Allah, ampunan serta rahmat-Nya. Semoga tulisan ini benar-benar membawa manfaat, bukan hanya buat saudara, tapi juga buat saya dan keluarga.
4.Pikirkan kemampuan Allah, kuasa Allah. Jangan membatasi diri dengan kemampuan diri.
Pikirkan kemampuan Allah, bukan ketidakmampuan diri sendiri. Ini penting, sebab kita sering jadinya putus asa, manakala kita sadar bahwa tidak ada satupun yang kita bisa lakukan untuk menutup hutang. Kalau Kuasa Allah kan tidak berbatas dan tidak bertepi. Beda dengan kuasa kita, langkah kita, yang ada mentoknya. Yang harus kita lakukan sementara kita tidak punya kemampuan, adalah kita secepatnya kembali kepada Allah, dan meminta Kuasa-Nya hadir di dalam kehidupan kita. Urusan hutang terlalu kecil bagi-Nya. Kalau Dia sudah berkenan, bukan saja hutang kita akan lunas, tapi juga kehidupan kita akan kembali dibangkitkan oleh Allah, usaha kita kembali dijayakan, rumah tangga kembali diharmoniskan, pekerjaan kembali diberikan, ketenangan kembali dihadirkan. Dan mampukah Allah? Pasti mampu. Dia pasti mampu. Dan ini pasti, tidak perlu diragukan lagi
5.Yakinkan diri bahwa Allah Maha Menolong.
Pikirkan Allah itu Maha Menolong. Tinggal sekarang kita berupaya agar pertolongan Allah hadir dalam kehidupan kita, dalam permasalahan kita. Saudara, yang harus kita kuatirkan dalam setiap usaha kita dalam membayar hutang dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan lain adalah jangan-jangan pertolongan Allah tidak ada. Sebab tidak mungkin yang namanya “susah” tidak mau pergi kalau Allah sudah berkenan menolong. Minimal, ketika permasalahan masih ada, kalau Allah sudah berkenan menolong, Dia akan menghadirkan ketenangan dan kedamaian di hati. Hidup kita tidak tegang, tidak panik.
6.Percaya bahwa Allah bakal menolong.
Usahakan menanamkan keyakinan bahwa Allah itu bakal menolong kita. Dengan begini, kita akan merasa aman. Sebab sudah ada sandaran. Kita pikirkan, kalau hutang kita ada yang menjamin, bukankah kita bakal tenang? Pikirkan, bila terhadap penyakit kita, ada yang bilang, ah, penyakit ini sih penyakit biasa, insya Allah bisa sembuh; maka hati kita langsung senang, langsung tenang? Demikianlah, kalau kita menyandarkan diri kita kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia Yang Maha Menolong mau menolong kita, sungguh, ketenangan dan kedamaian akan hadir. Insya Allah. Dan yang tidak kalah pentingnya, jaga sikap, jaga hati, jaga pikiran. Ini kalau kita semua mau ditolong oleh Allah. Maksudnya, jadikan diri kita pantas ditolong oleh Allah; “Barangsiapa yang bertakwa (memelihara diri) kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal (menyerahkan diri dan persoalan hidup) kepada Allah, niscaya Dia akan mengurusnya…” (ath Thalâq: 2-3).
7. Percaya bahwa Allah hanya menghadirkan hal-hal yang mudah dan hanya akan mempermudah. Pikirkan bahwa Allah itu hanya menghadirkan hal-hal yang mudah saja. Tidak pernah menghadirkan hal yang sulit. Yang sulit mah kita. Kita bahkan menambah sulit diri kita dengan memelihara kekhawatiran dan ketakutan. Jadi, upayakan agar Kehendak Allah muncul dalam kasus hutang piutang kita. Mengupayakan kehendak Allah itu adalah dengan mengetahui dengan cara apa dan berusaha mendekati Allah sehingga Dia berkenan kepada kita; “… Allah hanya menghadirkan kemudahan bagi kamu, tidak menghendaki kesukaran bagi kamu…” (al Baqarah: 185)
8.Jangan mengambil langkah yang salah dan hanya menambah permasalahan. Panik hanya kepada Allah. Jangan panik lalu mengambil langkah-langkah yang menambah runyam keadaan. Mengatasi hutang dengan hutang baru tanpa ada pijakan bayarnya adalah salah satu contoh kepanikan, menurut pengalaman saya. Jangan coba-coba menutup masalah dengan menghadirkan permasalahan yang lebih besar. Berpaling kepada selain Allah (meminta bantuan paranormal, dukun-dukun, kyai-kyai kurafat, kyai-kyai musyrik) akan menyebabkan Anda akan semakin jauh dari Allah. Langsung saja menghadap Allah, dengan jalan shalat dan sabar. Meski demikian, tidak salah minta doa dari orang yang Anda anggap alim, tidak salah minta nasihat dari pemuka-pemuka agama yang masih menjaga kehormatan dan kemuliaan agama Allah.
9.Perbaiki ibadah dan tingkatkan usaha. Tingkatkan usaha, perbaiki ibadah dan doa.
Untuk Anda yang muslim, terutama rajinin bangun malam untuk shalat tahajjud, dan pada pagi harinya shalat sunnah Dhuha,mengiringi shalat fardhu. Supaya pintu keberkahan dari langit bertambah terbuka. Kalau mengambil nasihat dari Aa Gym, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Percayalah, bila Anda berhutang, dan Anda memang berniat untuk membayar, maka Allah akan hadirkan kemudahan-kemudahan bagi Anda. Dan hal ini juga menjadi ibadah tersendiri. Insya Allah.
10.Pasrahkan kepada Allah. Memasrahkan diri kepada Sang Maha. Kalaupun akhirnya ada masa sulit yang memang harus mampir dalam kehidupan kita, terima saja. Yang penting kita tahu bahwa Dia sedang melihat kita dan tetap akan memperhatikan kita. Kita pasrahkan kejadian masa depan hanya kepada-Nya. Dan kadang-kadang kejadian tidak seburuk bayangannya koq. Udah waktunya berlalu mah, ia akan berlalu. Pagi saja berganti malam, tidak pernah pagi terus atau malam terus. Sekali lagi, yakinkan diri akan Kuasa Allah. Insya Allah,ada saja jalan bagi kita, termasuk jalan keluar untuk hutang-hutang kita.
Membayar Hutang Lewat Jalan Sedekah Kebesaran Allah selalu lebih besar daripada semuapermasalahan yang kita hadapi. Lalu kemudian yang kita perlukan adalah menghadirkan kebesaran Allah dalamproses penyelesaian masalah yang kita hadapi.
Sebenarnya ada satu lagi cara yang sangat-sangat efektif untuk bebas dari segala kesulitan, termasuk urusan hutang yang tidak terbayarkan. Caranya banyakin nolong orang, banyakin sedekah. Ketika kita menemukan kesulitan muncul dalam kehidupan kita, apapun namanya, apapun bentuknya, bersegera saja mencari orang-orang yang lebih sulit dari diri kita. Bersegera saja mencari orang-orang yang lebih susah, lebih menderita daripada beban yang kita pikul. Mana perlu, korbankan banyak (jangan sedikit) apa yang kita punya. Kalaupun kita engga punya uang, tapi kita masih punya aset barang, jual saja barangnya, lalu sedekahkan. Keajaiban dari menolong orang, keajaiban dari bersedekah akan membebaskan kita dari kesulitan seperti apapun kesulitan tersebut adanya. Buktikan saja. Lalu ada yang bertanya, ukuran sedekahnya bagaimana? Ukurannya adalah sebesar-besarnya kemampuan kita, dan sedekahlah yang terbaik. Besar kecilnya relatif. Tapi harus imbanglah dengan masalahnya. Kita punya masalah, sementara kita masih memiliki aset ratusan juta rupiah, lalu kita mengorbankan “hanya” beberapa ratus ribu rupiah, tentu akan terlihat ketidakimbangan. Lakukanlah pengorbanan yang terbaik, supaya Allah melihat, “hemmm, si Fulan mau mengorbankan harta dan jiwanya untuk-Ku, maka Aku akan bantu dia menyelesaikan persoalannya.”
“Tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sampai kamu mau mengorbankan apa yang kamu cintai…” (Âli Imrân: 92). Kebaikan buat para penghutang adalah terbayar hutangnya. Kebaikan buat orang yang sakit adalah sembuh dari sakitnya. Kebaikan untuk orang-orang yang sedang gelisah adalah ketenangan, dan seterusnya. Nah, mereka ini, digaransi Allah tidak akan mencapai kebaikannya itu dengan sempurna, dengan mudah dan gampang, kecuali mereka mau mengorbankan apa yang mereka cintai. Untuk membantu menemukan bagaimana sih pengorbanan yang kira-kira dikehendaki Allah?
Berikut ini ilustrasi kejadian. Please, jangan berpatokan dari hitam putih ilustrasi ini. Kembangkan sendiri, dan selaraskan dengan iman kepada Allah, yang berkaitan dengan keinginan dan permasalahan kita; Saudara misalkan punya hutang. Katakanlah seratus juta rupiah. Sementara saudara saat ini tidak memiliki uang yang berarti untuk membayar hutang saudara. Tapi saudara memiliki tanah seluas 100 meter persegi. Dan tanah itu satu-satunya, yang sedianya akan saudara bangunkan rumah (sebab masih ngontrak). Lalu datang penawaran Allah, bahwa kebaikan bagi saudara adalah ketika saudara bisa mengorbankan apa yang saudara cintai. Kemudian saudara berani mewakafkan tanah tersebut untuk sekolah di sekitar saudara, atau saudara jual dan uangnya saudara sebar untuk rizki yatim piatu di kampung Anda. Maka insya Allah ini dianggap sebagai sebuah pengorbanan.
Saudara memiliki uang hanya satu juta-satu jutanya. Sementara saudara dihadapkan pada permasalahan hutang yang cukup besar. Lalu Allah menjanjikan akan menolong mereka yang mau menolong saudaranya. Dan karena tertarik dengan janji ini, saudara lalu menginfakkan delapan ratus ribu rupiah (jumlah yang sangat besar bila dibandingkan dengan uang yang hanya satu juta rupiah), untuk menyentuh kesusahan orang lain, membelai yatim, membayarkan beberapa spp anak, membelikan obat-obatan ringan bagi keluarga miskin; maka bila ini Saudara lakukan, insya Allah inilah pengorbanan terbaik dari saudara yang bisa segera mengundang pertolongan Allah. Anda akan dioperasi jantung. Saat itu misalnya, tidak ada pilihan lain kecuali saudara menjual rumah satu-satunya milik saudara untuk biaya operasi. Dan Anda rela untuk tinggal di rumah kontrakan dengan alasan kesehatan jauh lebih mahal. Tapi ketika saudara tahu tentang keutamaan sedekah, di mana salah satunya adalah menghilangkan penyakit, Anda memilih tetap menjual tanah tersebut. Tapi bukan untuk biaya operasi, melainkan untuk disedekahkan. Anda lalu pulang, menandatangani surat pernyataan pelepasan tanggung jawab dari rumah sakit. Kemudian Anda lalu memilih tidak operasi, tapi rawat jalan saja, sambil mencari pengobatan alternatif. Jalan ini ditempuh oleh saudara, dengan keyakinan bahwa Anda perlu sesuatu untuk dikorbankan, untuk disedekahkan. Subhanallah saudara, iman saudara akan membuat Allah menyembuhkan penyakit saudara, tanpa operasi. Akan ada saja jalan dari Allah untuk menyembuhkan penyakit saudara tanpa melalui pintu operasi. Misalnya, suatu hari Anda kedatangan tamu, lalu tamu ini menyarankan Anda meminum ramuan tertentu. Eh, dengan ramuan ini saudara bisa sembuh. Dan sebenarnya, rahasia kesembuhan saudara adalah karena adanya ridha Allah. Allah senang saudara sudah berani mengorbankan tanah satu-satunya yang saudara sedianya jadikan biaya operasi; jadi dengan “hanya” meminum ramuan, saudara dibuat-Nya sembuh. Seseorang yang ingin berhaji. Lalu dia memiliki tabungan dua juta rupiah. Lantas dia berpikir, akan lama kalau ia menabung. Bagaimana kalau ia sedekahkan saja? Urusan Allah yang akan melipatgandakan sedekahnya menjadi rizki baginya. Lalu ia sedekahkan. Saudara, bila ini ia lakukan, Allah Yang Maha Syakuur, Yang Maha Balas Jasa, akan membuktikan janji-Nya. Di kemudian hari ia insya Allah akan berangkat haji dengan rizki yang tidak ia duga-duga sebelumnya. Dan masih banyak lagi. Sekarang saudara hitung masalah saudara, lalu saudara lihat-lihat di rumah dan di sekeliling saudara; adakah sesuatu yang bisa saudara infakkan di jalan Allah, seraya memohon pertolongan-Nya dalam masalah saudara. Semakin besar sedekah saudara maka pertolongan Allah pun akan semakin besar.